Skip to main content

Vakinn af Draumi (2016)

Irama lagu yang menemani saya saat ini bersama dengan rintikan hujan mengingatkan saya tentang potongan kisah yang terjadi saat itu. “With nonsensical words, you grab and push me” potongan lirik yang menyimpulkan kisah saya selama tahun 2016. Tahun 2016 adalah  awal mula seorang pemimpi harus ditampar realita yang menyakitkan. Proses yang menyakitkan dan ekspetasi yang berlebihan membuat kenyataan tersebut terasa seperti mimpi. Melalui Vakinn af draumi saya ingin membagikan perjuangan sang pemimpi yang tidak mudah tetapi tidak ingin berhenti.

“Ekspetasi berawal dari mimpi” tetapi ada pertanyaan yang masih membuat saya kebingungan hingga saat ini, darimana mimpi saya berasal? Mengapa saya ingin melakukan itu? kenapa saya harus menyakiti diri sendiri untuk mimpi saya? kenapa saya harus memiliki mimpi?. Semua pertanyaan tersebut hingga detik ini belum memiliki jawaban. Anehnya, saya merasa harus mencari semua jawaban tersebut dengan melanjutkkan mimpi saya. saat itu semua orang sudah sibuk mempersiapkan diri mereka. Disaat semua teman sibuk memfokuskan diri untuk meraih mimpi mereka, saat itu saya baru mendapatkan mimpi saya. “Proses yang paling sulit setelah mendapatkan mimpi adalah menjaga dan merealisasikan mimpi tersebut”. Saat itu mimpi saya bisa dibilang cukup sederhana meskipun sebenarnya cukup susah untuk direalisasikan “Saya harus masuk SMA negeri Jakarta dan memperluas relasi saya, supaya saat kuliah saya bisa mendapatkan perguruan tinggi yang bagus”. Bagi sebagian orang itu mungkin adalah hal yang mudah, termasuk saya juga berfikir seperti itu. hal yang perlu saya lakukan hanyalah belajar memahami semua materi dan sukses mendapatkan nilai akhir yang memuaskan. Semua hal saya coba lakukan meskipun terlihat berat. Saya bersekolah dikawasan “A” dan saat pulang saya harus mendapatkan pelajaran tambahan di kawasan “C” yang menempuh jarak 5-7km, tidak lupa pulang ke rumah di kawasan “B” yang jaraknya 10km dari tempat les. Saat saya menjalankannya itu semua tidak terlihat sulit dan saya sangat menikmati semua proses yang ada karena mata saya sudah tertuju pada suatu hal yaitu mimpi.

“Jika saya sudah mengingkannya, maka saya harus bekerja keras untuk mendapatkannya” itu adalah hal yang selalu saya tanamkan pada diri saya saat memutuskan untuk mengejarkan mimpi saya. waktu sangat cepat berlalu dan saya merasa bahwa saya bekerja lebih keras dari yang lain, kepercayaan diri muncul tanpa diundang seakan saya adalah pemeran utama yang akan memenangkan noble karena saya melakukan semua pekerjaan dengan sangat bagus. Di pertengahan jalan saya juga mendapatkan reward karena berhasil mengikuti simulasi dengan nilai yang lumayan bagus dan bisa mengalahkan teman saya yang paling pintar pada saat itu.

Akhir dari perjuangan saya akan segera terlihat. Sebelumnya, guru bimbingan saya sempat mengatakan bahwa saya harus menyiapkan rencana lain jika saya gagal nantinya. Akhir dari masa pertama menuju masa awal pun akan dimulai dan akan dapat saya ketahui. Saya menjawab semua pertanyaan itu dengan rasa percaya diri dan yakin bahwa saya bisa mendapatkannya. Semuanya terlihat seperti disurga dan saya sudah membayangkan semuanya rencana awal yang sangat sempurna dan hanya terlihat kebahagiaan.

Pengumuman pun tiba dan saya tidak bisa merasakan apapun selain kebahagiaan, karena hasil yang sudah saya perkirakan pasti akan saya dapatkan. Satu hal dari pelajaran yang saya dapat di tahun 2016 adalah bagaimana kita harus realistis dan menempatkan mimpi kita di tempat yang lebih mudah agar bisa dijangkau. Bagai disambar petir, surga yang saya harapkan berubah menjadi neraka yang sangat panas dan penuh kekecewaan. Nilai akhir saya jauh dari kata sempurna, dari nilai 40.00 saya hanya bisa mendapatkan 26.35. Lagi Realita yang kembali menghancurkan ekspetasi saya.

Saya banyak bertanya terhadap diri sendiri. Apa yang salah? Bagaimana bisa?. Saya mendapatkan dua jawaban itu. bisa saja ini semua terjadi karena saya terlalu memuji diri saya dan membandingkan diri saya bahwa saya lah yang terbaik atau tanpa sadar saya menjadi tidak teliti karena terlalu menganggap enteng pertanyaan. Satu hal yang saya sesali dari kehidupan saya pada saat itu, seandainya saya mendengarkan guru pembibing saya dan membuat plan baru sehingga saya tidak perlu merasakan sakit yang terlalu dalam karena ekspetasi dan bisa langsung menjalankan rencana kedua saya dan kemungkinan saya bisa lolos. Hal yang saya lakukan setelah menerima hasil itu adalah menyalahkan diri saya sendiri. Saya terlalu sibuk menyalahkan diri sendiri dan lupa masih ada masa depan yang akan menghampiri. Saya akan menulis penyesalan yang saya lakukan saat itu padahal seharusnya saya tidak melakukannya.

1.       Saya menyalahkan diri saya

2.       Saya merasa tidak percaya diri tentang apapun

3.       Saya merasa bahwa ini semua terjadi karena kesalahan saya di masa lalu

4.       Saya merasa tidak bisa membahagiakkan orang tua saya

5.       Saya menjauh dari tuhan karena merasa dikhianati.

 

  • Dengan saya menyalahkan diri saya saya tidak bisa maju dan tertinggal dari teman saya yang sudah mendapatkan mimpi mereka.
  • Saat saya meragukan kemampuan saya padahal saya masih memiliki potensi lain di bidang yang lebih baik.
  • Semua manusia memiliki kesalahan dan saya tidak seharusnya menyalahkan kesalahan masa lalu yang bahkan saya menjadi korban pada saat itu.
  • Saya memang harus mengakui bahwa memang saya harus bersedih Karena hal ini. Tetapi saya yakin bahwa mereka memahami kendala saya dan mereka tahu saya sudah melakukan yang terbaik
  • Saya seharusnya mendekatkan diri kepada Tuhan dan meminta kepada Tuhan untuk memudahkan kehidupan saya selanjutnya.

Dan masih banyak hal yang saya sesali pada hari itu. saya bertanya pada diri saya apakah saya harus bangkit atau mundur? Saat itu saya memilih bangkit dan menjalani kehidupan saya sesuai garis tangan saja. saya sedikit trauma dengan ekspetasi yang melilit dan menjatuhkan saya. saat saya memutuskan untuk memasuki SMA yang jauh dari ekspetasi saya, saya merasa “Vakinn af Draumi” atau “Terbangun dari Mimpi”. Bahasa tersebut diambil dari Bahasa Islan.

Kejarlah mimpimu setinggi langit, kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Tidak apa merasakan sedikit sakit itu semua akan berubah menjadi rasa tangis bahagia di kemudian hari. Harareveuse

Semua rasa sakit yang dialami akan menjadi sebuah goresan kehidupan yang akan terus dikenang meskipun kamu sudah sukses dan bahagia. Karena rasa sakit dan goresan tersebut yang membuat kehidupan menjadi istimewa. Harareveuse


Comments

Popular posts from this blog

Favorite Moment (2016-2017)

Saat ini saya akan menceritakan Favorite moment atau kisah menarik yang terjadi saat 2016-2017 cerita ini saya putuskan untuk di publikasi karena saya hanya ingin memgingatnya ketika saya tua nanti bahwa saya pernah memilki orang yang saya sukai hahahha. Tak terasa sudah hampir 2 tahun saya berada di SMA. Pengalaman menarik terus bermunculan sifat dan karakter semua teman sudah jelas terbaca, banyak yang mengatakan di kelas 2 SMA seharusnya kita merasakan cintanya anak SMA. Jujur kehidupan SMA saya tidak ada yang spesial jika berbicara dengan konteks "Percintaan" saya tidak pernah berpacaran di masa SMA (bahkan hingga detik ini). tetapi jika merasakan jatuh hati oke saya mengakuinya... saya sempat tertarik dengan teman saya yang berbeda kelas. dia tidak tampan, tetapi sangat pandai bermain basket, dia juga sangat pintar dan menjadi anggota organisasi sekolah pada saat itu. Jika dibandingkan saya, dia dan saya bagaikan pohon dan butiran pasir di sebuah pantai. dia menarik perh...

Prince and Fox

It was tuesday with blue skies and happy cloud showing themselves in joy. I was just trying to do my routine day as usual, but the sparkling joy come in the middle of the day. I was in a hurry with my prince and fox when I saw the bus. In my head I tought, I ran to the bus, but I never knew that the universe meant running to you. When we were in line, you got the call from Ali and your gentle voice sounded like music in my ear. Is she your girl? Have you had a someone? Even now, I still wonder before sleep. I stood beside you, The bus was full but it felt like they left space for us. I looked at your face by pretending to look outside the bus. I always fascinate by your affection. I just wanted to say that you suit that brown leader uniform. We held the bus holder like we hold our hopes. In the silence, you showed me your basketball on purple camera to adore me, but I've been since we met. I kept talking with myself but in my defense I just wanted to start a conversation with you. ...