Have you ever experienced your life in the darkness, then you see a daylight guide your life to a new beginning? I had, It was so wonderful.
Halo, Apa kabar? Selamat datang kembali di dunia Sherata.
Saya rasa sudah lama saya tidak menulis
artikel untuk blog ini dan setelah saya melihat saya lupa untuk menulis rangkuman
perjalanan hidup saya selama dua tahun terakhir. Sejujurnya jika saya menggambarkan
tahun 2021 adalah tahun yang memberikan banyak duka, tetapi setelah duka dan
kesedihan saya mendapatkan hadiah yang sangat indah. Selamat datang di dunia
Sherata part 2021 (Twenty Year Dark Night to a Daylight)
Awal tahun 2021 harus dibuka dengan
kedukaan di dunia Sherata. Pada tanggal 5 Januari 2021, Nenek saya harus pergi
meninggalkan dunia setelah selama tahun 2020 berjuang untuk melawan
penyakitnya. Saat itu saya harus tinggal bersama adik saya yang kedua dan kami
tidak bisa berada disamping nenek kami hingga akhir hayatnya karena kami harus
mengejar Pendidikan. Saat itu saya harus menjalani kuliah di semester kedua
secara online dan saya masih harus menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai
mahasiswa online yang sangat merepotkan. Sejujurnya saat menjalani peran saya
sebagai mahasiswa saya memiliki tekanan baik secara mental maupun fisik. Jujur
tidak mudah bagi saya untuk melanjutkan Pendidikan saya secara online setelah
satu tahun bersitirahat dalam dunia Pendidikan. Semua harus dilakukan
menggunakan teknologi yang tidak saya kenal sebelumnya dan itu membuat saya
frustasi. Saat itu setiap kelas saya memiliki ketakutan untuk berbicara melalui
metode daring. Saya sangat takut dengan presepsi orang-orang tentang diri saya,
apakah nada saya terdengar menyindir? Apakah saya tedengar lebay atau arogan
atau bahkan seorang attention seeker? Semu aitu terus berputar didalam otak saya
saat saya ingin mencoba untuk menyalakan mikrofon pada aplikasi konfrensi
online tersebut. Selama menjalani kelas secara offline saat SMA, saya tidak
pernah mengalami hal tersebut. Saya bisa berkespresi dengan bebas seperti
memberikan pertanyaan yang sulit ketika presentasi kelompok, bahkan teman-teman
saya menyuruh saya untuk memberikan pertanyaan sulit kepada kelompok-kelompok
tertentu (dalam konteks ini guru saya paham jika saya hanya memberikan
pertanyaan sulit yang tidak masuk akal agar mereka kebingungan dalam konteks bercanda
dan guru saya akan menjawab pertanyaan tersebut). Namun pada saat online, saya
bahkan tidak berani untuk bertanya kepada dosen meskipun saya tidak mengerti
mata kuliah tersebut, saya terlalu takut untuk bertanya karena terlalu
memikirkan pendapat mahasiswa/I lain yang belum saya temui sebelumnya. Saya
merasa orang-orang akan mengutuk saya jika saya berani bertanya kepada dosen
dan memperlambat jam kuliah, ketakutan itu terus muncul di setiap kelas bahkan
menjadi-jadi, di tahun 2021 saat saya menginjak semester 2.
Setelah nenek saya meninggal,
saya harus bolak-balik ke kampung untuk mempersiapkan tahlil untuk mendoakan
kepergian nenek saya agar bisa mendapatkan tempat terbaik di syurga. Meskipun
kampung halaman saya cukup dekat hanya membutuhkan waktu 2 – 3 jam, saya merasa
otak saya sedikit lebih tenang dan refresh setelah selama satu tahun harus
terdiam dirumah. Saya bertemu dengan saudara-saudara dengan menerapkan protocol
Kesehatan pada saat itu, namun tidak seketat saat saya dirumah. Setelah hampir
satu minggu memberikan kado Istimewa untuk nenek saya, saya kembali menjalani
aktifitas saya, di dalam rumah. Waktu cepat berlalu tidak sadar saya sudah
memasuki masa ulangan dan saya bersama kelompok dengan orang-orang yang tidak
pernah saya kenal sebelumnya. Jujur selama perkuliahan online saya tidak pernah
mau untuk berkenalan dengan siapapun, karena saya tidak mau dianggap sksd pada
saat itu, mungkin hal tersebut juga menjadi salah satu faktor mengapa saya bisa
memiliki pemikiran seperti itu. Saya harus menyelesaikan deadline membuat makalah,
namun hingga h- 2 tugas dikumpulkan saya dan kelompok saya belum mengerjakan
satu bab pun, hingga saat h-1 makalah harus dikumpulkan ketua kelompok saya
baru menyatakan bahwa dia sedang sakit dan tidak bisa mengerjakan. Saya bukanlah
orang yang suka melakukan pekerjaan yang mepet, jujur saya sangat benci hal
tersebut namun saya juga tidak bisa membuat Keputusan karena saya takut anggota
lain menganggap saya mendahului sang ketua (jujur ini adalah masalah yang sangat
sepele tapi pada saat itu hal ini menjadi sangat berat dan membuat frustasi
karena saya belum mengenal orang-orang yang menjadi teman kuliah saya) akhirnya
saya bersama kedua orang lainnya harus mengerjakan tugas itu dan saya mengedit
TANPA TIDUR hinggal pukul 2 pagi (saya saat itu tidak pernah lagi begadang
karena kapok setelah mendapatkan penyakit) saya mencoba tidur dan terbangun
pukul 8 pagi untuk mengumpulkan file pada jam 9. Jujur saya sedikit menyayangkan
ketidakprofesionalan rekan saya dan saya juga menyalahkan diri saya kenapa saya
tidak mencoba untuk membuat itu dari jauh-jauh hari. Setelah UAS selesai saya
telah mendapatkan nilai. Saya sangat shock ketika melihat satu nilai c pada
mata kuliah yang saya kerjakan tugasnya hingga begadang. Saya tidak paham
bagaimana dosen tersebut menilai hasil kinerja saya, kenapa saya bisa
mendapatkan nilai c tanpa adanya bukti konkret dari hasil kerja saya? Saya ingat
saya mendapatkan nilai kurang memuaskan di Ujian Akhir tetapi saya tidak
mendapatkan feedback apapun di makalah tersebut, lalu apa gunanya saya melakukan
tugas tersebut? Disinilah saya mulai menyalahkan semua keadaan.
Saya merasa saya tidak pantas dan
merasa kesal dengan diri saya sendiri, bahkan mulai menyalahkan orang lain,
hingaa merasa ketakutan dengan presepsi orang kepada sayaa, saya kehilangan
nenek saya, situasi rumah sedang tidak baik-baik saja setelah itu dan saya juga
harus mendapatkan nilai yang buruk, saya merasa 6 bulan tersebut seperti berada
di kegelapan abadi. Saya berusaha untuk baik-baik saja tetapi saya selalu menangis
karena setiap malam saya merasa semua keburukan-keburkan tersebut terus
berputar dan diputar dalam otak saya hingga membuat saya merasa ketakutan
dengan masa depan yang akan saya alami kedepannya. Kedua orang tua saya
bukanlah orang yang terbuka dengan penyakit seperti itu dan saya tidak mungkin
menyampaikan hal ini karena mereka baru saja berduka dan ayah saya sibuk bersama
dengan proyek rumahnya. Setiap pagi saya mencoba untuk baik-baik saja meskipun
dimalam hari saya akan merasa ketakutan dengan hal tersembut.
Suatu malam, sebelum tidur saya
berada dikamar orang tua saya sambil melihat ke layar TV sendirian dan saya
ingat pada saat itu jam setengah 9 malam, namun saya merasakan sinar yang
sangat terang dan saat itu saya melihat Antares, seseorang yang berhasil mencoba
menyelamatkan saya dengan Cahaya teranganya namun saat itu saya teralih dan
belum bisa membedaka mereka, pada saat itu saya terbawa sosok Spica yang
memiliki Cahaya indah dan kita lahir ditahun yang sama dengan rasi yang berbeda.
Saya mencoba mencari tahu lebih dalam tentang sosok Spica saya sadar jika ada
perasaan yang salah disini, namun perasaan apa itu? Setelah satu musim berlalu
saya berusaha mengikuti spica dan menemukan, jika bukan spica yang selama ini say
acari tetapi Antares. Saya menunggu musim berikutnya dan saya melihat Antares
disana, dengan senyumnya yang khas dan semangatnya yang pantang menyerah. Namun
ada satu kesedihan yang saya rasakan saat itu, saya ingin sekali Antares
menunjukkan sinarnya tetapi penguasa hanya ingin Antares menunjukan sinarnya
selama 5 menit? Itu tidak adil. Saya akhirnya memberi pesan kepada Antares
bahwa dia telah melakukan yang terbaik. Saya juga mengirim pesan tersebut pada
pukul 9 malam dan untuk pertama kalinya Antares melihat pesan yang saya tulis. Tanpa
saya sadari, semua ketakutan dan kecemasan itu hilang dan tergantikan oleh
sosok Antares yang berusaha untuk menunjukkan sinarnya. Saya menjalani hari
lebih baik dari sebelumnya semester 3 saya jalani dengan penuh keberanian
seperti apa yang Antares lakukan. Hingga akhir tahun 2021 saya menjalani
kehidupan baru dengan memandangi Cahaya Antares bahkan setelah kelas dosen terseram
di hari Sabtu, saya tidak takut bahkan menunggu untuk bisa melihat Antares menunjukkan
sinarnya dengan kostum Maroon kesukaan saya. Mengenal sosok Antares adalah
sebuah Cahaya indah yang berhasil mengubah hidup saya, terima kasih untuk
cahayamu Antares, salam kenal dari Sherata!
Twenty Year Dark Night to a
Daylight, berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti 20 tahun kegelapan
menuju sinar pagi. Judul ini terinspirasi dari lagu Daylight yang diciptakan
oleh Taylor Swift. Saya merasa lagu ini sangat cocok untuk kehidupan tahun 2021
yang menjadi duka dan juga Anugrah untuk saya. Jika kalian sedang mengalami
keterpurukan, saya harap anda tidak menyerah. Saya sudah merasakannya sendiri, percayalah
Allah, tuhan atau semesta atau apapun yang kalian percaya mendengarkan semua
doa dan harapan kalian. Yakinlah Daylight tersebut juga akan datang di hidup
kalian- harareveuse (Sherata World)
Comments
Post a Comment